Setiap kita ingin dihargai,
Kejarlah daku, kau kupeluk
---------------------------
Dua jam setelah kawan-kawan kades melaksakan aksi damai di gedung DPR/MPR serentak muncul komentar pro maupun kontra terhadap tuntutan tersebut, dari berbagai pelosok, berbagai kelompok dan berbagai umur.
Tujuannya tentu berbeda-beda, ada yg sekedar numpang tenar, ada yg mencari tambahan pundi melalui bayaran conten tiktok dan youtube dan yg betul-betul ingin menggagalkan.
Saya pribadi sangat memahami betapa getirnya perjuangan ketika dicap negatif. Kita paham kawan-kawan sakit hati ketika mendengar komentar terkait aksi kawan-kawan.
Apakah kita harus melawan dgn susah payah terutama mereka yg kontra? Tentu tidak perlu, bahwa kita harus pahami negara kita adalah negara besar dgn sistim demokrasi, pro kontra adalah sesuatu yg biasa, lumrah bahkan bisa jadi input-input perbaikan.
Kawan-kawan tentu paham bahwa Bumi Indonesia sangat kaya dan plural, ratusan bahkan jutaan kelompok-kelompok terbentuk secara alami, di negara kita tercinta ini terdiri dari beberapa perspektif, terbangun dalam merespon suatu pemasalahan.
Tidak dapat dihindari bahwa disekitar kita, ada kaum Penuh curiga, ada kaum senang menfitnah, ada kaum gemar mengadu domba, dan yg paling berbahaya adalah banyaknya kaum sok pintar sekalipun tidak pernah baca Undang-undang desa merasa lebih pintar dari kepala desa.
Kesemua itu saya menduga disebabkan karena dipikiran mereka terlalu lama dipenuhi rasa curi, iri hati dan dengki, merasa lebih hebat, merasa lebih jujur dan tega menfitnah kawan-kawan kades, koruplah, bodohlah dan lain-lain.
Maaf terlalu panjang dan lebar, Ibu Ketum bilang, "terlalu panjang menyusahkan wanita, terlalu lebar laki-laki tidak mau" maaf TUM saya kutip kalimat candanya
Saya tutup saja paragrafnya dengan sebuah pertimbangan:
1. Kita tidak perlu marah, gusar dengan komentar miring di publik.
2. Kita tidak perlu melawan mereka yg gemar menfitnah kades, mencaci kades bahkan mencurigai kades, sebab pada akhirnya ketika mereka ingin mendaftar pegawai, polisi, tentara, jaksa, hakim, mau dirikan usaha pasti ke kades minta tanda tangan dan wajib kawan-kawan tanda tangani.
3. Kita tidak perlu dendam dgn perlakuan mereka, sebab mereka bukan orang bodoh, tetapi mereka belum pintar dan belum sempat berpikir.
4. Kita tidak perlu mencibir mereka yg belum pernah jadi kades, tetapi merasa lebih pintar dari kades.
5. Dan maafkanlah mereka yg menganggap tuntutan masa jabatan 9 tahun adalah tindakan pencundang.
Mengapa harus demikian? Karena kawan-kawan kades adalah pemimpin yg mutlak harus berjiwa besar,
Ingat..
balaslah perlakuan mereka dengan melayani kebutuhan mereka sepenuh hati, murah senyum, merangkul, memeluk mereka.. wkwkwkw
Di tulis oleh
Salah satu delegasi aksi damai Kades di gedung DPR/MPR
Haeril
Kepala Desa Ulubalang Salomekko, Bone, Sulsel Indonesia...
Terakhir...
Ketika air mata saya menetes, bukan menetes karena banyaknya komentar miring, tetapi menetes bahagia mengenang saat kita berkumpul dari seluruh pelosok tanah air, dari sabang sampai merauke, dari barbagai suku, dari berbagai etnis, bercanda, saling ejek, saling kerjain, tanpa sekat, tanpa batas, seakan lahir dari rahim yg sama...
Merdeka
Merdesa
Wassalamu alaikum wr wb
Syukri
12 April 2024 14:20:02
Semoga MTQ antar persukuan desa Pulau Gadang terlaksana dengan berkesinambungan untuk menghasilkan insan...